Sorry, I Am Busy

Saat jaman masih kuliah dulu, saya merasa saya ini adalah seorang sibuker (maksudnya lebih sibuk ketimbang jaman SMA , ya iyalah). Pagi kuliah, sore praktikum ,malam ngerjakan tugas, atau malah saat pendidikan profesi bisa bisa seminggu dua minggu tdk pulang ke kos-an ,terasa heboh lah pokoknya, belum lagi mesti ada kegiatan kegiatan lain diluar kampus yang mesti juga dikerjakan.Membagi waktu untuk orang lain terasa sebagai sesuatu yang mahal.boro boro mikirin masalah orang lain, masalah ummat , mikirin diri sendiri saja sudah suiiiibuk.

Pikir saya,nantilah kalo sdh kelar kuliah dan punya waktu lebih banyak saya akan juga ikut mengurusi , membenahi berbagai hal yang kurang sip di diri sendiri, dimasyarakat dan di ummat, sebagaimana saudara saudara lain yang gigih berjuang untuk kebaikan tdk hanya untuk dirinya sendiri , tapi juga untuk masyarakat dan ummat.

Alhamdulillah lulus kuliah , selain mendapat ijazah ,saya juga sekalian mendapat ijab sah , krn seorang pria yang baik telah Allah hadiahkan kepada saya sebagai pendamping dalam fase kehidupan selanjutnya yakni berkeluarga.

Saya pun kemudian diterima bekerja ditempat yg memang sesuai dg profesi dan impian saya. Hidup jadi semakin berwarna setelah anak anak kami lahir melengkapi kebahagiaan itu.Bekerja dan berkeluarga menjadi kesibukan baru saya, pikiran bahwa selepas kuliah, saya akan punya waktu lebih banyak untuk tidak “merasa sibuk” ternyata keliru.kesibukan sepertinya makin bertambah tambah.Ditambah lagi saat anak ketiga kami lahir, suami harus melanjutkan studinya ke luar negeri.Jadilah saya ibu pekerja & single parent untuk 3 anak anak itu.hoho…..makin (sok) sibuk deh

Lalu setelah itu, satu setengah tahun ini , suami meminta saya menemaninya selama studi dan post doctoralnya, saya berhenti dari pekerjaan yang telah saya geluti selama enam tahun terakhir,dan jadilah saya full house wife sebagaimana sekarang. Apakah lalu saya merasa punya banyak waktu longgar?hoho………ternyata TIDAK .Perasaan (sok) sibuk itu datang dan datang lagi, datang dalam bentuknya yg lain lagi………….

Ketika saya merenunginya, akhirnya terus terang saya terpingkal mentertawai diri saya sendiri,bagaimana tidak , perasaan (sok) sibuk itu sepertinya memang tak akan pernah hilang .yup tak akan pernah hilang, selama perasaan itu memang sengaja dihadirkan.

perasaan sibuk sesungguhnya adalah tidak lebih dari sebuah persepsi yang kita hadirkan sendiri, bisa jadi itu sebagai apologi atas ketidak mampuan kita memanajemen diri sendiri baik manajemen waktu, prioritas maupun manajeman masalah dalam kerja kerja.

barangkali ada benarnya bahwa kuantitas pekerjaan berbanding lurus dengan peningkatan perasaan sibuk, tapi seberapa besar kuantitas itu sehingga sampai pada ambang kita “merasa sibuk” adalah sesuatu hal relatif.

Dan manusia adalah makhluq cerdas yang seharusnya bisa belajar menguasai , mengatur dan memanajemen besaran nilai ambang itu,sehingga tdk terlalu rendah rendah amat,atau paling tidak ada peningkatan nilai ambang itu dari waktu ke waktu. Sama persis dengan fisiologi tubuh manusia dalam membangun mekanisme defens terhadap paparan benda asing dari luar (stress, penyakit,dll).Mirip pula dengan terapi desensitisasi pada kasus kasus alergi barangkali.

Dari sisi fisik psikis, konon perasaan sibuk juga tidak menguntungkan. Orang yang merasa sibuk, cenderung merasa cepat lelah, cepat habis tenaga, rentan sakit, rentan distress, kurang semangat, bahkan malas melakukan kerja kerja yang lebih luas.

Dalam salah satu bukunya Imam Hasan Al Banna pernah menyampaikan sebuah kisah tentang seorang pemuda yang tiada lelah menjadi seorang penyeru kebajikan, dihari Jumat selepas bekerja, dia keluar dari kota tempat tinggalnya untuk memberikan dan mengajak manusia untuk kembali kepada agamanya,hari sabtunya dia telah berada di kota lainnya, dihari ahadnya diapun sdh ada dikota lainnya lagi yang berjarak puluhan kilo meter dari kotanya. Dihari Senin pagi pagi sekali dia adalah orang pertama yang datang ketempat bekerjanya,sudah kembali bekerja dengan badan segar dan pikiran bugar.Tak tampak bekas kelelahan dan kesibukan ditubuhnya.

Jelaslah bahwa pemuda ini adalah seorang yang secara kuantitas kerja dia sibuk, saat liburpun bukannya dia beristirahat dirumah bersama keluarga, tetapi lebih memilih “bekerja yg lain” ,namun dia tidak pernah merasa sibuk ,enjoy dalam bekerja, tetap ceria dan fresh. Kisah nyata ini menunjukkan bagaimana bila persepsi thd “rasa sibuk” itu bisa diatur, dikendalikan maka akan punya dampak positip kepada diri.fisiologi tubuh dalam mengatasi kelelahan akibat beban kerja akan sangat terbantu , endorphin dan dopamine sebagai zat inner analgetik dalam tubuh yang berefek pada munculnya rasa nyaman akan diproduksi dengan mudah dan murah saat persepsi dalam pikiran kita berisi persepsi2 yang positip.

Jadi kesimpulannya tak ada salahnya saya kira, kita menaikkan ambang “rasa sibuk” kita dengan meningkatkan kualitas manajemen diri lebih baik, sehingga dengan begitu kita akan punya lebih banyak kesempatan lagi berkarya , berlatih menjadi sebaik baik manusia, “khoirunnas anfauhum linnas”,sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia (lainnya),tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri dan keluarga kecil saja , tapi lebih luas lagi.InsyaAllah.

Kalo kita mau insyaAllah kita bisa, begitu ajakan saya pada diri yg lemah ini.

Selamat tinggal kata : sorry, I am busy.

Wallahu a’alam.

(salut utk my lovely room mate yg meski jaman kuliah nge-lab  jam 5 pagi pulang jam 12 malam , saat libur masih membagi dirinya untuk saudaranya, namun tidak pernah sekalipun mengatakan dirinya : busy)

~ by inas39 on January 31, 2008.

One Response to “Sorry, I Am Busy”

  1. sekarang aku malah suka merasa ‘kosong’ bu.. sibuk sih ama kuliah.. cuma kayaknya sibuknya kuliah itu menghampakan. Baru deh, kl silaturahmi ama sodara2, rasanya seneeeng banget

    ~orang kesepian ;p

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.