MENAKAR KADAR BAJIK DAN BIJAK DALAM AMAL
Ketika seorang muslim berinteraksi dengan islam, maka mestilah keyakinan, perasaan, pemikiran,tata hidup dan moral yang tumbuh dalam jiwanya adalah sesuatu yang berwarna islam.Islam yang cantik , indah, kemilau dan semerbak harumnya kemana mana. Satu kondisi yang membawa ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan tidak saja bagi diri pribadi namun juga bagi siapa saja yang berada diantaranya.satu kondisi yang memungkinkan kasih sayangnya kepada saudaranya, kepada masyarakatnya, kepada bangsanya melebihi cinta untuk dirinya sendiri. Dalam sejarah bukti itu sangat nyata ketika orang orang anshor mencurahkan segenap cintanya bagi saudara2nya muhajjirin dengan memberikan harta, perhatian, dan jiwanya.
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.Sekalipun mereka memerlukan (apa
yang mereka berikan itu) .Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(QS al Hasyr (59) : 9)
begitupula kaum muhajjirin terlihat bagaimana kualitasnya dengan tetap zuhud, menjaga izzah, dan itsar pula menerima kebaikan kebaikan saudara anshornya.Tidak kemudian mentang mentang mendapat kebaikan lalu dimanfaatkan.
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”.( QS Al Hasyr (59) : 10)
Kondisi yang dipenuhi nilai nilai islam ini kemudian akan muncul dalam bentuk sikap sikap (mauqif) yang islami, secara pribadi maupun secara bersama.satu masalah yang muncul akan disikapi dengan adil sebagaimana sempurnanya islam menjawab berbagai persoalan kehidupan. Berbagai aksi reaksi yang ada dalam tatanan kehidupan individu dan bersama adalah berbagai aktivitas(amal) yang punya nuansa kebajikan dan kebijakan.
Apapun (amal) yang dilakukan ,Siapapun yang melakukan (amal), dalam kondisi apapun (amal) dilakukan, bagaimana pun cara (amal) dikerjakan, semuanya disandarkan kepada ukuran kebajikan dan kebijakan yang tertuntunkan islam.seperti apa wujud bajik dan bijak dalam amal adalah tergantung dari seberapa besar kadar empat nuansa dalam amal amal nya.
Apakah itu empat nuansa?
1. Nuansa dakwah (menyeru)
Dakwah adalah sebaik baik perkataan sekaligus penyangga kokohnya perkembangan islam sehingga apapun profesi yang sekarang kita sandang, maka itu menjadi sesuatu yang bajik dan bijak dalam kacamata islam ketika ada nuansa dakwah yang mengalir dalam denyut nadi profesi itu. Apa yang bisa kita lakukan untuk menyeru manusia ila sabili rabbik (bil hikmah wal mauidzatil hasanah), maka lakukanlah.Apa yang bisa kita sumbangkan untuk amar ma’ruf nahyi munkar, maka sumbangkanlah. Rasulullah SAW dan para sahabat dengan berbagai nama profesi yang disandang adalah juga para penyeru (da’i) yang tiada lelah bekerja, tiada penat beramal mengajak kejalan Tuhan.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (QS ali imran (3) : 104)
2. Nuansa tarbiyah (pembinaan)
Nilai nilai islam yang terinternalisasi dalam diri kita mestilah tetap kita pelihara, bahkan ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya nya. Disinilah peran tarbiyah (pembinaan) islamiyah dalam beramal.Baik itu tarbiyah yang kita lakukan secara mandiri (tarbiyah dzatiyah) maupun pembinaan yang dilakukan secara bersama (tarbiyah jamaiyyah).Baik itu tarbiyah dalam bentuk tilawah (membaca) , tazkiyah (mensucikan) maupun dalam bentuk tuallimunal kitab wal hikmah/ta’limul minhaj (mengajarkan pedoman).
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.(QS ali imran(3) : 164)
Tarbiyah adalah kemestian sebagai pengawal aktivitas agar tidak keluar dari garis islam, tetap tsabat (teguh) dan istiqomah didalamnya.Tarbiyah adalah tempat pulang dari hiruk pikuk kesibukan beramal.
3. Nuansa dinamisasi/pergerakan
Pergerakan , gerakan dan gerak adalah kata kata yang menggambarkan sesuatu dinamis, berubah, tidak jumud (stagnan).
Pun juga dengan amal amal yang kita lakukan tidak mungkin dapat ada/terjadi bila tanpa adanya gerak dan pergerakan dari pelakunya. Amal adalah produk dari sebuah gerak, bila kita ingin lantai dirumah bersih, yang mesti kita lakukan adalah “bergerak” untuk menyapu membersihkan lantai dari segala kotoran. Bagaimana mungkin kita ingin lantai rumah kita “kinclong” bila kita hanya memandanginya saja , berdiam diri tanpa berbuat apa apa.pergerakan adalah ruh dari perubahan, perubahan dari buruk menjadi bajik, dari sembrono menjadi bijak, dari kegelapan menuju cahaya islam.
4. Nuansa kesungguhan
Kesungguhan adalah salah satu kunci dari kesuksesan. Sudah menjadi sunnatullah bahwa dalam kehidupan ada hukum kausalitas. Hasil yang optimal dan maksimal tercapai manakala disebabkan oleh amal yang dikerjakan dengan penuh mujahadah (bersunguh sungguh).”Tidak berubah nasib suatu kaum tanpa (upaya) kaum itu sendiri merubahnya”.Nuansa kesungguhan dalam amal sangat dipengaruhi kuat niat diawal amal. Seberapa besar kuat niatnya maka sebesar itulah kadar kesunguhannya.dalam beramal bajik dan bijak ada banyak duri yang akan menghalagi, maka tekad kuat yang sungguh sunguh, akan menjaga tiap kita agar tak berpaling dari berjuang, tahan terhadap godaan,.tak cengeng melawan rintangan, tak lemah berhadapan dengan kekurangan.
Begitulah empat nuansa yang mestinya kita hidupkan menghiasai amal amal dalam menjalani tugas/amanah dalam mengabdi kepadaNya.Agar persembahan kita itu dapat mengokohkan kedudukan kita di mata Raja dari segala raja, Allah SWT. Agar dari jengkal ke jengkal waktu berikutnya, amal kita semakin bajik semakin bijak kadarnya.
Wallahu a’lam bishowab
(Jinju 2 Nopember 2007)


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.