Kesempurnaan Pekerjaan
KESEMPURNAAN PEKERJAAN
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
( Surah At-Taubah : 105 )
“Arbait Adel Dem mench, leding heitd is des devines oorkusen”.“Pekerjaan mempertinggi derajat manusia dan manusia tanpa kesibukan akan menjadi santapan setan”.
Begitulah kutipan pepatah yang sering disebutkan seorang penulis di kolom opini sebuah Koran harian Nasional di Indonesia untuk menunjukkan betapa seriusnya posisi dari sebuah pekerjaan dalam kapasitas “nilai manusia” .
Bekerja dan berusaha memang merupakan sebuah kodrat hidup baik dari sisi intelektual , spiritual , fisis biologis manusia, baik dari sisi individu maupun sosial.Bagi seorang muslim bekerja adalah juga bagian dari refleksi tugas ibadah kita kepada Allah SWT sekaligus manifestasi dari pemberdayaan potensi kita sebagai khalifah didunia.
Dari sisi “nilai pekerjaan” kualitas bekerja seorang muslim tidak didasarkan pada seberapa besar reward dari manusia yang didapat dari hasil pekerjaannya itu.Namun didasarkan pada seberapa besar pekerjaan itu bernilai bakti (baca=ibadah) disisi Allah. Agar bekerja menjadi bernilai ibadah maka pekerjaan yang dilakukan mesti diawali dengan niat yang lurus,disertai keikhlasan dan benar (baca=sesuai yang dituntunkan).Untuk mendongkrak “nilai pekerjaan” itu mestilah pekerjaan yang kita lakukan berkualitas. Kerja yang berkualitas adalah kerja yang memiliki etik kerja sebagaimana Islam menuntunkan.Bekerja giat dan cermat,bekerja keras dan cerdas, tekun , professional dan produktif, bermanfaat dan punya dampak multiefec untuk kebaikan personal dan sosial, disiplin dan mencermati waktu,berkompetisi secara positif, saling membangun dan saling menolong, merupakan sebagian dari tuntunan etik kerja bagi seorang muslim.Namun ternyata mobilisasi dan optimalisasi segenap sumber daya yang dimiliki manusia, belum cukup untuk sempurnanya sebuah pekerjaan. Pekerjaan /amal keshalihan barulah sempurna bila disertai sebuah kunci bernama “tawakkal”.Tawakkal kepada Sang Raja, ALLAH SWT.
Tawakkal secara bahasa adalah menyandarkan diri kepada yang lain. Orang yang bertawakkal kepada Allah adalah orang yang meyakini bahwa Allah menjamin rizkinya, mengatur segalanya sehingga ia tidak bersandar kepada yang lain. Tidak kepada hartanya, tidak kepada ilmunya,tidak kepada pangkatnya, tidak kepada anak, istri/suaminya, tidak kepada sajangnya, tidak pula kepada professornya.
Hakikat dari tawakkal adalah kejujuran untuk menyandarkan hati kepada Allah, berusaha memperoleh manfaat dan menolak mudharat atas nama harapan akan ridha Allah, dalam segala kerja untuk dunia maupun akhiratnya, tentu saja setelah bulatnya sebuah tekad dan usaha. “….. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal.” (QS Ali-Imran: 159). Usaha/kerja dan tawakkal adalah pasangan yang saling menyempurnakan.Usaha tanpa tawakkal akan kurang nilainya,seseorang yang bertawakkal maka dia akan selalu “berusaha”. “ikat dulu untamu, baru bertawakkal”, demikian nasehat Rasulullah SAW kepada seorang sahabat.
Di bulan yang mulia nan istimewa ini tak ada salahnya kita berupaya makin menyempurnakan kerja kerja amal keshalihan kita dengan tawakkal kepadaNya, dimanapun kita, siapapun kita, sebagai apapun kita.
Wallahu’alam bishowab.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.