Wajah Ramadhan Di Negeri Kimchi
Bagi setiap muslim, bulan ramadhan adalah bulan yang begitu dinantikan, dirindukan karena begitu banyak keistimewaan dan keutamaan didalamnya. Bulan dimana satu amalan kebaikan direward dengan sekian lipat pahala dibanding hari biasa di bulan yang lain, bulan dimana Al Quran diturunkan,bulan yang didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan ibadah, bulan tarbiyah, bulan taubah , bulan kepedulian pada sesama yang salah satunya terwujud melalui kewajiban zakat fitrah sampai diujung bulannya, bulan penuh ampunan, dan keistimewaan lainnya.Ramadhan ibarat sebuah laboratorium kehidupan dimana di didalamnya setiap muslim kembali di “cuci” dan “di latih” sehingga sekeluarnya dari laboratorium ini ada muncullah manusia baru yang “bertaqwa“.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.
Semarak ramadhan tidak saja di rasakan di negeri negeri dengan penduduk mayoritas beragama islam semisal Indonesia. Di negeri kimchi ini pun dimana islam merupakan agama minoritas geliatnya juga terasa meski tak segegap gembita di negeri dimana islam menjadi mayoritas.Sepintas memang kehidupan masyarakat berjalan seperti biasa, seperti hari hari lainnya.Kota bangun dan tidur dalam rutinitas yang sama,orang berangkat kerja dengan tergesa, hiruk pikuk sub way, bis kota, mobil pribadi , sepeda dan pejalan kaki hilir mudik dengan teratur. bar, restoran dan tempat hiburan yang tak pernah sepi pengunjung,pabrik dan kantor buka jam sembilan pagi tutup jam enam sore dan seterusnya.Wajarlah semua tampak tak berubah, karena Islam masih menjadi bagian dari agama agama kecil dinegeri yang sebagian besar penduduknya berasal dari ras mongoloid ini, sehingga pengaruhnya belum bisa menjangkau sisi sosial kemasyarakatan secara luas.Dalam masalah agama ,negeri dengan ibu kota negara Seol dan bendera nasional Taegeukki yang melambangkan keselarasan dan perdamaian dunia ini , sangat dijamin kebebasannya oleh undang undang, bebas boleh beragama, boleh tidak beragama, sebuah kebebasan ala liberalis. Dari jumlah penduduk 49,044,790 jiwa (july 2007), sekitar 34,3 % penduduk tidak beragama. Agama terbesar dikorea adalah budha (50,7 %), dikuti Kristen katolik dan protestan (14 %),sisanya terdiri dari beberapa agama lain seperti chondokyo, budhisme won, termasuk islam.data terakhir menyebutkan bahwa jumlah ummat islam di korea diperkirakan sekitar 100 000 jiwa, dimana 40.000 adalah warga negara korea, selebihnya adalah kaum muslim yang menjadi resident migrant dari berbagai negara, seperti Pakistan, Bangladesh, Uzbekistan,Malaysia dan Indonesia.
Namun dibalik ke-biasa biasa-an itu justru menjadi pemacu kaum muslim untuk makin semangat menghidupkan ramadhan di negeri yang terletak di Asia timur laut seluas 99.000 km 2 yang biasa disebut dengan Daehanminguk (republic korea) .
Diawal ramadhan, ucapan selamat ramadhan ramai menghiasi alat komunikasi kaum muslimin dalam bentuk telpon , SMS maupun email dari kolega, teman , kerabat sesama muslim sebagian juga non muslim.milis milis muslim diramaikan dengan diskusi diskusi dan kajian on line jelang ramadhan,masjid yang tersebar diberbagai kota seperti di Seuol, kwangju, Anyang, Busan, Daegu dan Jeonju banyak menyelenggarakan kajian tarhib ramadhan.demikian pula untuk skala yang lebih kecil seperti Islamic center dan musholla tak kalah meriah menyambut ramadhan. Mushola Al Furqon misalnya, tempat ibadah yang berada di daegu , salah satu kota otonom korea , yang dikelola oleh para pekerja Indonesia melalui sebuah yayasannya “PERMATA” menyelenggarakan kajian tarhib ramadhan yang dihadiri oleh ustadz dari Indonesia,dihadiri sekitar seratusan pekerja dari kota daegu dan sekitarnya,diskusi cukup menarik dimana disana dibicarakan masalah masalah yang terkait puasa utamanya hukum hukumnya .melihat beratnya pekerjaan yang dihadapi para pekerja itu wajarlah kiranya bila seorang pekerja menanyakan hukumnya bila tidak berpuasa saat bekerja dan diganti dihari lain saat libur. Bayangkan seorang yang bekerja selama 12 jam sehari di pabrik pemotongan besi /baja , agar tidak kepanasan dia mesti ditemani dua kipas angin raksasa dan mesti minum berbotol botol air agar tidak kehausan dan terpanggang panasnya ruang kerja,tentu bisa dibayangkan alangkah beratnya bila sang pekerja saat harus berpuasa ketika bekerja.
Begitu masuk bulan ramadhan yang tahun ini 1 ramadhan jatuh pada tanggal 13 September berbagai kegiatan dilakukan oleh berbagai organisasi muslim seperti organisasi pekerja Indonesia dikorea (IKMI,IKMIK, PUMITA,PERMATA, AL AMIN, KMC dll ) maupun organisasi muslim lainnya untuk memeriahkan suasana , dan menyemangati kaum muslimin untuk meningkatkan ibadah di bulan itu. Mulai dari sholat tarawih berjamaah, taujih ba’da tarawih , tilawah quran,khataman quran,hifdzil dan tadabur quran, I’tikaf dsb.Banyak cara dilakukan,misalnya kajian on line rutin dua kali sepekan selama ramadhan oleh milis muslim korea,penulisan artikel ramadhan yang dimuat di milis milis lokal,atau kegiatan lain seperti misalnya di Islamic center Daejon untuk memacu semangat berinteraksi dengan Alquran diselenggarakanlah acara kompetisi juz 30 dan nasyid,juga kajian akhwat pekanan tiap sabtu yang di bimbing oleh sister asal mesir.Ifthar bersama juga merupakan acara yang rutin dilakukan di berbagai tempat.Di masjid Jinju, misalnya sekalipun hanya berifthar dengan hidangan sederhana berupa kurma dan makanan ringan ala kadarnya, tidak mengurangi silaturahmi dan ukhuwah sesama muslim. Di masjid Busan pelatihan entrepreneurship bagi pelajar dan pekerja yang rutin diadakan, terselenggara semakin manis karena dilanjutkan dengan iftar bersama.Di musholla changwon, ifthar diawali dengan “ceramah kesehatan” tentang kiat sehat selama ramadhan, suasana yang penuh kekeluargaan dan “guyup” seolah menghadirkan suasana pengajian ramadhan di kampung halaman.Bagi beberapa musholla nuansa etnik Indonesia pun masih kental terasa,jadi jangan kaget bila di negeri yang juga terkenal dengan ginsengnya ini ada kajian islam dengan bahasa jawa “kromo inggil” , atau ada pesan pesan yang disampaikan dalam bahasa sunda.
Untuk menambah semaraknya ramadhan beberapa organisasi muslim mendatangkan ustadz dari Indonesia, tahun ini yang diundang adalah KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym), selama dua hari ustadz akan bersafari di kota kota besar korea untuk menyampaikan taujihnya.Pengundangan ustadz dari Indonesia di lakukan selain sebagai upaya untuk menambah ilmu, juga dimaksudkan untuk penggalangan dana demi pembangunan sebuah masjid pertama Indonesia yang direncanakan akan didirikan di Changwon, sebuah kota industri dimana banyak pekerja Indonesia terkonsentrasi.
Begitulah geliat ramadhan di Negara dengan 8 propinsi dan 6 kota otonom ini.walaupun islam masih merupakan agama minoritas dan masih dianggap sebagai budaya “foreigners” ,adalah tugas setiap muslim di negeri won ini untuk mendakwahkan syiar islam kepada siapapun termasuk masyarakat korea. Pertanyaan “apakah anda sudah makan/anda punya makanan?”, adalah pertanyaan paling familier setelah salam menanyakan kabar “anyeong haseyo”, sehingga ketika jawaban kita “belum makan” (karena berpuasa) maka hal itu adalah sesuatu yang luar biasa yang akan menyebabkan mereka bertanya, karena bagi masyarakat korea, makan dan prosesi makan adalah sebuah budaya komunal yang menempati posisi khusus dan penting dalam aktivitas budaya-sosial kemasyarakatan.Mereka akan sangat bersedih melihat ada orang yang belum makan.Ini adalah kesempatan yang baik bagi muslim untuk memperkenalkan islam kepada mereka melalui shoum ramadhan berlanjut kepada konsep islam lainnya.
Sehingga islam yang bersentuhan dengan negeri ini sejak pertengahan abad 9 dan terus berkembang utamanya sejak th 1950an saat pasca perang sipil korea, saat banyak tentara muslim asal turki yg merupakan bagian dari pasukan perdamaian dari PBB yang memperkenalkan islam,akan menjadi lebih bercahaya , lebih berkibar dan diterima.Allahu Akbar.
~ by inas39 on September 20, 2007.
Posted in kabar

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.