BENANG MERAH PRIORITAS DAN TARBIYAH
BENANG MERAH PRIORITAS DAN TARBIYAH

PRIORITAS
Menapaki hari hari dalam mengisi kehidupan ini, setiap kita pasti mempunyai sesuatu yang bernama prioritas. Sesuatu yang paling mendominasi, yang harus diutamakan, didahulukan, dan mendapat perhatian.Sesuatu yang menuntut kita untuk menaruhnya dalam wilayah terluas dalam peta pikiran yang tiap hari kita gambarkan.Tiap orang pastinya punya judul prioritas yang berbeda beda,bisa jadi prioritas itu adalah karier dalam pekerjaan, study, keluarga, teman, uang, makanan atau apapun itu.
Ada banyak hal yang mempengaruhi seseorang untuk membuat prioritas , namun secara empiris ,menurut saya setidaknya ada dua hal yang mempengaruhi.
Pertama, adalah masalah “persepsi”.
Persepsi adalah cara bagaimana kita menerima informasi atau menangkap sesuatu hal, secara pribadi atau individu .Persepsi ini akan membangun bentuk bentuk pikiran dalam diri kita, menterjemahkan apa apa yang mesti penting dan perlu kita lakukan termasuk dalam pengambilan sebuah keputusan (baca = prioritas).Apapun bentuk persepsi yang hidup dalam diri kita entah itu persepsi yang sifatnya konkret/ nyata, maupun persepsi yang abstrak/kasat mata, keduanya punya pengaruh dalam menentukan peran apa yang mendominasi diri kita baik secara aqly, ruhy dan jasady.
Ada seorang teman yang mengatakan bahwa makanan dan proses makan adalah sesuatu yang kedudukannya adalah hanya sebagai penunjang keberlangsungan hidup, jadi untuk masalah makan memakan dalam persepsinya adalah bukan hal yang menjadi masalah besar, sepanjang makanan itu halal,cukup gizi,bersih,rasanya tidak asing di lidah, maka nikmat saja disantap. Soal penampilan penyajian, judul menu, tempat dll tidak menjadi soal, alih alih menjadikannya sesuatu yang prioritas. Tentu ini berbeda bagi penganut faham makanan dan proses makan tidak hanya sekedar sebagai pelengkap kebutuhan dasar, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup,gengsi, status sosial, seni, hobby dll. Ini adalah contoh tentang bagaimana persepsi tentang makanan dan proses makan yang berbeda memunculkan sikap yang berbeda .menjadikan proritas yang berbeda pula.semakin positip (baca=merasuk kedalam diri) sebuah persepsi akan semakin kuat pengaruhnya dalam diri seseorang untuk mempengaruhi penentukan prioritas dalam hidupnya.
Kedua adalah masalah “kebutuhan”
Semakin kita merasa “butuh pada sesuatu , maka sesuatu itu akan semakin menjadi hal yang prioritas bagi kita.menurut derajatnya kebutuhan yang akan menjadi prioritas adalah jenis kebutuhan yang masuk pada kategori kebutuhan penting dan genting. Kebutuhan yang sifatnya penting tapi tidak genting, maka pemenuhannya tidak perlu disegerakan sehingga menjadi tidak prioritas. Demikian pula kebutuhan yang sifatnya genting tapi tidak penting, mungkin pada kondisi tertentu akan perlu kita abaikan saja pemenuhannya.misalnya dering telpon pada suatu rapat untuk memutuskan hal yang sangat urgen,dering telpon adalah sesuatu yang genting, untuk segera diangkat, tapi bisa jadi itu tidak penting karena hanya telpon salah sambung.sehingga mestinya memang setiap kita trampil dalam menerapkan manajemen penting genting kebutuhan terkait dengan soal pengaruhnya untuk sebuah prioritas.
Kedua hal diatas dalam mempengaruhi seseorang untuk membuat prioritas dalam hidupnya bersifat layaknya diagram Venn, dimana prioritas adalah irisan antara persepsi dan kubutuhan .
TARBIYAH
Setiap kita pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari. Untuk itu semua potensi dan peluang kita arahkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita ,dari segala sisi baik pikir, raga dan ruh. Salah satu jalan untuk itu adalah melalui jalan tarbiyah (pembinaaan) yang komprehensif, holistik ,kontinyu, dan professional dalam bingkai islam, sehingga melahirkan kepribadian muslim dan kepribadian da’i. sholih pribadi, sholih sosial, sholih susila, unggul secara komparatif dan kompetitif.
Tarbiyah menjadi keniscayaan yang mesti dilakukan karena dengan tarbiyah telah terbukti lahir generasi unggul seperti para sahabat yang bak gemintang dilangit sebagai hasil tarbiyah islamiyah yang dilakukan Rosulullah SAW.Tarbiyah menyediakan media learning by doing dari aspekkognitif, afektif dan skill dari para anggotanya. Tarbiyah memang bukan segala galanya, tetapi tanpa tarbiyah segala galanya tidak akan bisa tercapai, demikian sebuah kalimat sarat ma’na yang disampaikan seorang ulama.Ini tentu bukan semata “jargon dogmatis” namun memang sejarah menorehkan fakta bahwa tarbiyah mampu menjadikan seorang muslim menjadi tidak saja sebagai agent of change tetapi juga menjadi seorang director of change dalam mengemban tugas mulia sebagai khalifatur fil ardh, yang tidak saja kokoh secara internal tetapi juga tegar menghadapi tribulasi eksternal. Lihatlah bagaimana rayuan raja ghosan sama sekali tak berarti dihadapan kaab bin Malik saat Kaab dalam posisi sulitnya atas hukuman, lihatlah bagaimana Musab bin Umair merelakan ke”selebritis”annya di masa muda demi sebuah “keyakinan Islamnya”, dan mulia sebagai syahid dengan berdarah darah. Tengoklah bagaimana Said Qutb menolak mentah iming2 menjadi menteri dan memilih “rela” tiang gantungan menjadi cara perjumpaan dengan Rabbnya dalam senyum yang terkembang dibibirnya.Semua itu tak akan muncul dari pribadi pribadi yang lemah, tarbiyah telah menguatkannya.
PRIORITAS DAN TARBIYAH
Seberapa cepat proses akselerasi kita dalam menjadi diri yang lebih baik melalui tarbiyah , adalah sangat tergantung dimana kita meletakkan tarbiyah dalam persepsi dan kebutuhan kehidupan ini.
Bila tarbiyah diri masih kita persepsikan sebagai sebuah sarana pemanfaatan waktu luang dan waktu sisa, kita butuhkan hanya sebagai media agar kita tidak salah mencari lingkungan dsb, maka kita akan lambat menemukan kata tarbiyah sebagai prioritas kehidupan kita.Padahal kita mesti berpacu dengan waktu dalam mengakselerasi diri menjadi lebih berkualitas dan lebih berbekal . Masa tidak pernah menunggu kita, kita lah yang mesti mengejarnya sehingga tarbiyah madal hayah (pembinaan sepanjang hidup)yang kita lakukan terus berkembang tidak stagnan . Sehingga kita tidak hanya menjadi “penikmat” keindahan islam tetapi juga sekaligus sebagai “penyaji “ islam. Sehingga kita tidak cukup puas menjadi orang orang yang berada ditepi dalam putaran islam , tetapi terus melaju bergerak menuju menjadi inti putaran. Arus inti putaran akan sedemikian kuat menarik kita dalam kesempurnaan islam ,sedang arus ditepi putaran berisiko menjadikan kita lepas dari putaran.
“Hai orang orang yang beriman,bertaqwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok “
(QS Al Hasyr : 18)
Astagfirullah, wallahu a’lam bishowab.
Jinju, 24 Juli 2007.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.